^
story | travel | indigenous
Sisilia Menjelang Makan Malam Tanpa Perbincangan Tentang Roti, Gandum, Mafia, dan Mafia, dan Sssst…
Sisilia Menjelang Makan Malam Tanpa Perbincangan Tentang Roti, Gandum, Mafia, dan Mafia, dan Sssst…

Sisilia Menjelang Makan Malam Tanpa Perbincangan Tentang Roti, Gandum, Mafia, dan Mafia, dan Sssst…

“Kaum fasis tidak mempercayai demokrasi, aturan hukum masyarakat. Mereka berbuat sesuka hati demi apa yang baik bagi negara. Kau tahu, pasukan-pasukan Musolini diperintahkan menembak terlebih dulu dan bertanya kemudian,” 

Mic, ayah Salvatore
Antonia berpose dengankaca mata hitamnya (kanan) Lanskap perkampungan di Sisilia (kiri)

Antonia, gadis dua puluh tiga tahun itu, tiba-tiba protes ketika saya terlalu banyak bertanya padanya. Ia terdiam, menunggu saya menjawab pertanyaan yang sama sekali tidak untuk dijawab. Pancaran bening dari bola matanya menatap lekat ke wajah saya. Tatapannya, yang sedikit pun tak ada keraguan, mengingatkan saya pada pepatah lama di sini: gadis Sisilia sama berbahayanya dengan sepucuk senapan yang telah dikokang. Akan tetapi, itu hanya pepatah lama ketika seluruh wilayah Italia, termasuk Sisilia ini, berada di bawah cengkraman diktator fasis Benito Mussolini. Saat itu, pemerintahan bertangan besi yang paranoid mencurigai siapa pun warganya, apalagi orang Sisilia. Kekuasaan yang mengekang, alih-alih membuat patuh, justru memunculkan para pemberontak. Satu dari sepuluh pemberontak teratas di Italia masa itu bernama Salvatore Guiliano. Ia membunuh seratusan polisi dan carabinieri (sebutan untuk polisi khusus di Italia), termasuk puluhan warga sipil yang dianggapnya pengkhianat. Tidak tanggung-tanggung, ia juga merampok jutaan dolar dari pemerintah, para tuan tanah dan orang-orang kaya. Hasil kerja keras Guiliano dan komplotannya itu dibagikan kepada orang-orang miskin—sungguh laku yang amat edan masa itu. Koran-koran tak henti-henti memberitakan sosok ‘Robinhood Sisilia’ ini, yang lebih banyak ditulis sebagai bandit ketimbang pahlawan kaum miskin, proletar. 

Saat Italia yang lapar dan miskin dikuasai pejabat, jaksa, hakim, polisi dan politisi korup yang terlalu banyak bicara, Guiliano dikelilingi banyak pengikut setia yang tak banyak bicara. Orang yang telah lama kelaparan akan berhenti bicara, dan di Sisilia, senjata lebih banyak bicara dari pada mulut manusia. Membuka mulut berarti dekat dengan berkhianat. Untuk puasa bicara, orang-orang Sisilia menjalani selibat yang disebut ‘omerta’; istilah tutup mulut yang susah dicari padanannya dalam bahasa manapun. 

Akan tetapi, bagi pemerintah, Guiliano tidak bisa dibiarkan bertindak seenaknya. Tidak main-main, 2.000 aparat dikerahkan ke Sisilia yang dipenuhi bandit dan pemberontak; pulau di tepi laut Mediterania tempat tinggal Antonia kini. Pada musim panas, Juli 1950, Guiliano ditembak mati. Koran-koran ramai memberitakannya, termasuk The Argust danL’Europeo memuat potret dan obituari kematiannya yang penuh darah.

Sekarang, Juli 2023, musim panas sedang menyalak keras, dan media-media di Barat masih meragukan keamanan di Sisilia. Musim panas adalah juga musim di mana senjata lebih banyak menyalak. Para pemberontak, bandit, kebanyakan ditembak dan menembak pada musim panas. Tidak lama sebelum saya datang ke sini, koran-koran setempat masih memberitakan kematian tiga lelaki di tempat berbeda yang terjadi dalam satu ketika. Bila Anda tahu bagaimana cara kerja organisasi kriminal, Anda akan menganggukkan kepala bahwa kematian itu sesungguhnya terhubung satu sama lainnya.“Kau tahu, kami harus terus bekerja sepanjang hari. Lihat, aku akan memakai kacamata hitam yang dua pekan lalu kubeli, biar aku tidak terlihat seperti gadis kampung saat kau memotretku sedang memasak. Kau akan suka pasta, aku tahu cara membuat …

(tunggu terbitan bukunya)

Potret Alessandra (kanan) Ruang tidur di rumah seorang Don di Corleone yang tidak pernah dirombak sejak fasisme berkuasa hingga kini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *