^
story | travel | indigenous
OBITUARI BUAT ANGIN
OBITUARI BUAT ANGIN

OBITUARI BUAT ANGIN

KETIKA zaman melesat ke depan, ia justru tertinggal jauh di belakang.  Saat kesenian telah bermetamorfosis dengan berbagai bentuk, melesat cepat bagai anak panah yang menembus segala batas, kontemporer, ia justru bertahan dengan sesuatu yang kuno, kesenian tradisional yang lamban dan dianggap telah beku. Saat temuan-temuan kesenian telah mencapai batas-batas sakral yang profan, ia justru terperangkap di masa silam yang buram. Apa sebenarnya yang ingin ia pertahankan?

Apa yang hendak kau perjuangkan?

“Entahlah,” katanya.

Ada kekuatan besar yang hendak memisahkan kemanusiaan dari kesenian, katanya lagi suatu ketika dengan mimik yang dipalsukannya meniru cara politikus bicara di TV-TV. Terdengar berlebihan memang, dia memang suka melebih-lebihkan sesuatu. Ia habis membaca l’art pour art dan bentuk-bentuk kesenian di Barat. Kekuatan besar macam apa? Ia tidak benar-benar bisa menjawab, atau jangan-jangan itu akal-akalannya saja walau hidupnya yang singkat tersebut jauh dari hal-hal serupa itu.

Sejak kecil ia telah jadi pesilat, juga pemain randai—terlalu handal malah. Ia masuk ke Universitas Andalas dari latar belakang pendidikan yang sebetulnya tidak wajar. Saat saya mengenalnya tahun 2003—12 tahun sebelum hari ini ia tutup usia—ia masih berbau kitab kuning, aroma baju para ‘fuqaha’ yang mengaji fiqih. Geraknya lebih banyak kaku bagai hendak berkelahi dengan siapa saja. Enam tahun masa remajanya dihabiskan di sebuah pondok pesantren di Pasia; satu kampung kecil di dataran tinggi Minangkabau sana, membuat gerak-geriknya terlihat udik dan menyolok di tengah kota yang mengagungkan fesyen.

Ia kemudian belajar di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Masa itu, ketika teman-temannya masuk universitas atas alasan masa depan, masa depan yang berarti ijazah dan pekerjaan ‘layak’ setelah menyelesaikan kuliah, ia justru bergerak ke masa lalu. Masa lalu dalam mitologi dan hikayat-hikayat lama, dalam alunan dendang, kebijakan-kebijakan hidup yang tak tampak, petuah-petuah yang tak kasat mata, ajakan-ajakan tentang keseimbangan hidup, kesucian jiwa—semua hal yang sebetulnya tidak (lagi) mendapat tempat di universitas dengan tembok-tembok dingin yang tinggi tempat ia kuliah. Kesenian tradisi tak lebih dari segala hal yang menurut banyak orang telah beku. 

Ketika universitas gembar-gembor dengan Kuliah Umum Kewirausahaan, persaingan ekonomi bebas, ekonomi kreatif dan kesenian ingin disatukan oleh pariwisata, dan itu harus dikembangkan oleh ‘pasar’—ia justru merdeka dalam kepapaannya, dengan jalan ‘akademis’nya dengan segala misi-misi keseniannya yang janggal masa itu (juga saat ini). Ia menjalaninya sendiri, kadang ia tidak dapat tempat. Ruang terasa sangat sempit untuk geraknya yang susah ditebak. Tapi, ia tidak menyerah—ia memang tidak memiliki kata itu dalam otaknya. Sekali lagi, saya tidak pernah tahu apa yang ia inginkan dalam dunia akademis, yang hingga akhir hayatnya ia masih berada di dalamnya walau di pojok yang berbeda. ’Dunia akademis’ tak lebih dari sebuah gerbang baginya, gerbang untuk menyentuh manusia lainnya, walau akhirnya ia terperangkap di dalamnya dan tidak pernah benar-benar keluar dari pintu yang sama. Ia lebih banyak alpa dari gejolak ‘kaum muda terdidik’ hari ini. Ia terdepak dari perbincangan dan arus kesenian hari ini yang melesat cepat. Tapi, yang patut dihormati dari segala yang ia lakukan: ia tak henti-henti berbuat untuk kesenian. Harus diakui,walau ia juga bukan satu-satunya seniman yang masih tetap bersikukuh dengan segala ketegaran dan keteguhan dan kepapaan sekaligus.

Nama lengkapnya Zefri Gusrianaldi—saya pernah bilang kalau nama itu sangat tidak cocok disandang oleh seorang seniman tradisi. Ia dipanggil Aldi, nama yang cengeng buat seorang pesilat handal. Teman-temannya lebih suka memanggilnya Angin, Barangin (nama dengan konotasi negatif ‘stres’ karena cara pandangnya melihat sesuatu, kadang tidak jelas ujung dan pangkalnya, bercanda tak tentu arah, tingkahnya yang tiba-tiba, seperti angin).

Kami satu kelas dan belajar tentang hal-hal baru yang asing. Ia gemar menulis puisi, namun puisinya bercitarasa buruk. Saya sangat yakin itu. Kata-kata dalam bait-bait puisinya melonjak-lonjak tak tentu arah, kadang terlalu telanjang, diksinya kuno sebagaimana cara pandangnya yang juga kuno. Selebihnya, kami sering main musik dari warung ke warung di kampus. Dari main musik, barulah kemudian kami bisa makan siang. Saban sore, ia banyak latihan randai (teater tradisional Minangkabau) atau melatih silat buat kawan-kawan di Jurusan Sastra Minangkabau. Hal seperti itu terjadi bertahun-tahun di kampus kami.  Kemudian ia terlibat dalam garapan-garapan kesenian yang lebih jauh.

“Kenapa kau tak tamat?” kawan-kawannya sering bertanya. Ia akan menjawab dengan senyum kecil, senyuman yang kadang sulit dimaknai sebagai sebuah senyuman. Saya cukup tahu apa arti senyum kecil itu. Ia seorang yang menampik ijazah dan kertas-kertas pengakuan akademik. Saya sering mengejeknya kalau ia tidak tamat karena ia keras kepala, otak dan cara ia berpikir terlalu lelet, ‘sok dalam’. Ia bisa saja melihat karya-karya Shakespeare seperti melihat mata pelajaran balaghah dan kitab kuning (sungguh adab yang semena-mena). Saya bahkan menertawainya kalau ia baru bisa menamatkan Othello dalam dua bulan. Kalau Anda mengenalnya dan mengajaknya bicara, pada menit ke sepuluh Andasudah tahu kalau ia seorang yang keranjingan dengan ‘dunia tradisional’ yang ingin terus-menerus ia kaji, tradisi di tempatnya hidup, mencari tautan dengan nilai-nilai yang datang dari Barat. Entah ‘barat’ yang mana—mana saya tahu.  Tapi, di Jurusan Sastra Inggris yang agung tempatnya kuliah tidak ada ruang buat mengkaji kajian jenis itu, katanya kesal. Ia berbeda sendiri. Sesuatu yang berbeda akan disepelekan, mungkin akan dibuang. Kampus lebih tahu bagaimana caranya membuang “yang berbeda” walau terus berkoar tentang perbedaan sudut pandang yang harus dihargai.

“Kebanggaan kampus kini, kebanggaan yang busuk!” Untuk saat-saat tertentu, ia cukup kasar dan meledak-ledak. Ucapannya terkadang di luar kewajaran ‘nilai-nilai akademis’. Wajar ia dipanggil dengan sebutan aneh dan tidak wajar: Barangin. Sedang Sastra Inggris butuh mahasiswa yang manut, bukan yang meledak-ledak seperti Aldi Barangin. 

Ia tidak tamat dari di Sastra Inggris Unand. Ia tidak mau, katanya. Barangkali ia tidak membutuhkannya, namun ia enggan menyebutkan. Ia kemudian pindah ke Institut Seni Indonesia di Padangpanjang. Tapi, sekali lagi, saya tidak tahu apa yang ingin diraihnya dalam berkesenian. Mungkin saja ia tidak ingin meraih apa-apa, atau hanya untuk melaluinya saja, seperti angin menjangkau lembah-lembah yang jauh. Bukankah kesenian pada dasarnya adalah untuk menjangkau sesuatu yang jauh, malah yang teramat jauh yang berada dalam diri manusia?

Kritikus seni S Metron Masdison, setelah melihat pementasan karya-karyanya yang dipentaskan di Hari Tari Sedunia, menilai bahwa Aldi salah seorang yang akan menjadi. Mungkin maksud Metron adalah yang akan matang. Angin punya pencarian yang berbeda. Tapi, sekali lagi, saya tidak begitu tahu dengan apa yang ia cari dan sejauh mana ia berbeda. Mungkin tak seorang pun tahu apa yang sebetulnya ia cari dalam kesenian. Selama bertahun-tahun ia bergerak sendiri di lorong-lorong sempit kesenian tradisi ‘masa lalu’, kadang berteriak sendiri , meneriaki keadaan. Hanya saja, ia berteriak dalam diam yang bahkan tidak seorang pun hapal suaranya. Ia punya cara sendiri untuk berteriak.

“Ia seperti menyebarkan kesenian tradisi pada siapa saja, siapa saja yang mengenalnya akan melihatnya sebagai seseorang yang tak berhenti memeluk seni,” kata S Metron lagi, “seluruh seniman hebat di dunia ini akan melakukan daya untuk menemukan jalannya dengan cara masing-masing. Ia orang yang mau berjalan di batu berkerikil tajam dan tidak mengelakkannya. Apalagi yang lebih baik dari itu?”

Di Sastra Inggris, sepuluh tahun silam, ia lebih banyak bergelut dengan randai ketimbang belajar kehidupan Shakespeare. Ia membenturkan “Timur yang asing” dengan “hegemoni Barat”. Ia lebih intim dengan hikayat-hikayat lisan ketimbang Michel Foucault atau teori Marxis—walau akhirnya saya sadar sepuluh tahun setelah itu, ia mengirimkan foto-fotonya tengah menampilkan randai dan silat di Polandia. Ia mencoba mengajar kesenian tradisi Minangkbau di beberapa daerah lain di Eropa. Ia benar-benar bagai seseorang dari masa lampau yang hendak menawarkan ‘keseimbangan hidup’ tradisi purba pada manusia hari ini di Barat sana. Sungguh sebuah kekeliruan—saya mengejeknya. 

“Ini baru langkah awal,” katanya pada saya. Dia tidak menyebut itu perjuangan, melainkan langkah. Entah langkah awal atas capaian apa, saya tidak ingin bertanya. Namun, tetap saja, saya tidak pernah paham dengan apa ia melangkah. Nama yang dibawanya tak berubah sejak ia lahir. Tidak ada gelar dan titel yang disandangnya—ketika jutaan manusia di dunia ketiga hari ini menyembah embel-embel tersebut hingga mengkotak-kotakkan kemanusiaan atas nama gelar dan jabatan. Tak hanya ke Barat sebetulnya, ia juga memperkenalkan silat dan randai ke beberapa daerah di Indonesia. Di Medan, katanya sembari memamerkan foto-foto pada saya, ia menjadi guru silat dan randai.

Akhir tahun 2013, ketika ia telah kuliah belasan semester di ISI Padangpanjang, saya dimintanya membuat naskah. Naskah itu ia kemas jadi pertunjukan tari dan dipentaskan bersama kelompok Kesenian Unand dalam sebuah lomba Tari Kontemporer Nasional di Makassar. Ia meraih juara 1—hal yang baginya sungguh tidak penting buat diceritakan.

Setelah itu, ia mendesak saya lagi. Katanya, ia begitu ingin membawa hutan Sumatra ke atas panggung.  Membawa keserakahan yang memorak-porandakan kehidupan? Bagaimana pemodal-pemodal raksasa dari Ibukota membunuh manusia di Sumatra, itu yang hendak kau bawa? Naskah itu rampung saya kerjakan empat bulan silam, dan ia telah mengantonginya. Tapi, katanya, naskah yang saya buat cukup menguras tenaga dan butuh banyak aktor dan penari.  Sementara, saat itu, ia tengah terlibat kontrak kerja dengan Bengkel Seni Tradisi di Fakultas Ilmu Budaya Unand. Kontrak kerja yang ia maksud, saya cukup mengerti artinya. Ia akan melatih kesenian tradisi Minangkabau, mengajarkan gerak, membuat komposisi laku—secara sukarela bahkan tanpa dibayar. “Kontrak kerja” yang ia maksud tidak hanya di Universitas Andalas, melainkan juga di berbagai kelompok kesenian di Universitas Negeri Padang, Institut Seni Indonesia padang Panjang, SD, SMP, Sekolah Alam Minangkabau di Ulak Karang Padang, atau di kampus lain yang saya tidak tahu. Tapi, sekali lagi, apa yang ingin ia perjuangkan dengan seni tradisi yang terus mengajak pada kesimbangan hidup sementara dunia ini bergerak terus dengan cara yang timpang? 

Ia tidak akan bisa menjawab pertanyaan itu sampai kapanpun—saya tahu itu. Pertanyaan itu akan dianggapnya berbau, sarat pragmatisme gaya barat, katanya—saya juga tahu itu walau ia tidak begitu bisa menerangkan istilah apa yang ia maksud. Ia begitu gundah dengan zaman, ia begitu berlebihan mencap perilaku manusia hari ini, pendidikan hari ini yang menurutnya porak-poranda–sungguh berlebihan. Dunia kesenian hari ini, katanya, sarat sampah. Ingat, ia bisa mencap apa saja sekehendak hatinya. Ia bisa gundah tiba-tiba.

Seni tradisi Minangkabau ia pilih untuk sebagai media untuk meyampaikan kegundahannya, mungkinkah itu? Jawabannya, tentu ada di masa depan yang tidak satu pun dari kami bisa menjangkaunya. Sementara ia berjalan sendiri di jalan lengang. Jalan yang ia pilih berbeda untuk menyampaikan sesuatu yang barangkali itu kebenaran, kegundahan, bau busuk zaman, adat, pertikaian, dan entah apalagi cuma dia yang tahu. Aldi bicara tentang hidup hari ini, ia berbincang tentang hidup yang terus menerus rusak dan tergerus. Randai, yang biasa bercerita tentang hikayat silam, kebijakan-kebijakan masa lalu yang seakan telah beku pada hari ini, ingin diubahnya. Ia ingin randai tidak melulu hidup di masa lalu yang sebetulnya benar-benar telah beku. Dan, anehnya, ia bersikukuh memakai randai sebagai langkah awal, sebagai media penyampai yang hendak ia teriakkan. Walau ia mendapat begitu banyak hambatan karenanya. Tapi, dalam hidupnya yang rumit untuk dijelaskan,  ia tidak pernah saya dengar mengeluh. “Ia begitu banyak berbagi untuk kami,” kata Fandi Pratama, mantan Ketua Bengkel Seni Tradisonal Minangkabau. Satu tahun belakangan, selain di Fakultas Ilmu Budaya, ia banyak melatih silat dan randai di Palito Nyalo, sebuah kelompok silat dan seni tradisi di kaki bukit Karamuntiang di Pauh Padang. Dan, pengabisan kali, ia hendak berangkat ke Padangpanjang membantu seorang temannya yang ingin ujian S2. Tapi, Tuhan punya kehendak lain. Kematian begitu cepat merenggut ketika ia belum sampai ke satu titik capai, atau bisa saja ia telah berangkat dari banyak titik capaian dalam hidupnya.

***

Di satu lereng perbukitan yang mengelilingi lembah datar di jantung Minangkabau, Agam, tubuhnya ditanam. Barangkali, tempat itu yang pantas menjadi kampung terakhirnya—walau bukan ia sendiri yang memilih. Hanya tumpukan tanah kuning, sebentuk gundukan yang ditaburi bunga-bunga. Sesekali angin lembah yang dingin bertiup menggoyangkan pohon-pohon di tubir-tubir bukit. Inilah tempat peristirahatannya kini. Sementara, kesenian tradisonal Minangkabau terus melaju—entah melaju ke arah mana hanya masa depan yang bisa menjawab. Ia telah berangkat ketika pekerjaannya belum rampung. Ia berangkat diam-diam pada satu senja di awal Agustus 2015, kepergian yang begitu cepat, begitu mengejutkan, yang membuat miris, yang teramat mengganggu saya, juga teman-temannya yang lain. Ia telah berangkat sebelum ia sempat menuai apa yang ditanamnya. Walau sebetulnya kawan-kawannya tahu, ia tidak suka menuai sesuatu yang telah ia tanam. Teman-temannya menghambur-hamburkan rasa kesedihan di media sosial, meraung-raung di depan jenazahnya yang dibalut jaket satu-satunya yang ia miliki, duka yang dalam, ungkapan atas rasa kehilangan. Kehilangan atas apa? Saya juga tidak tahu. Yang saya tahu, kepergiannya mengingatkan saya, bahwa pencarian akan kebenaran dalam diri manusia akan bermuara pada Tuhan, sang pemilik jagad raya. Selamat jalan, Angin.

Foto-foto di atas saya ambil dari postingan Facebook di laman Zefri Gusrianaldi. PadangEkspres Minggu 9 Agustus 2015-http://www.koran.padek.co/read/detail/33972