Naga kita ini adalah makhluk kanibal, gemar memakan bayinya sendiri, menyantap bangkai, dan tidak jarang melahap mangsanya selagi mangsa itu masih hidup tanpa membunuhnya lebih dulu, atau kerap pula ia menelan mangsanya hanya dalam hitungan detik. Ia pemalas, namun ganas. Ia predator ulung yang mampu berenang, menyelam, berlari. Ia berdiri dengan dua kaki untuk bertarung dengan ganas. Lehernya yang kokoh sanggup memutarkan kepalanya untuk melihat ke segala arah. Hidungnya menciumi bangkai dan aroma darah mangsanya hingga jarak sepuluh kilometer. Sapuan ekornya yang bersisik menyerupai mata gergaji bisa menjatuhkan dua orang dalam sekali ayun. Moncongnya yang pepat membuat ia terlihat lebih mirip T-Rex dalam imajinasi ilmuwan yang tergila-gila dengan makhluk purba. Berotot padat dengan bobot yang bisa mencapai 100 kilogram, membuatnya terlihat jemawa ketika berjalan. Ia juga dililit oleh mitos dan legenda purba: diyakini lahir dari rahim seorang perempuan setengah dewa. Maka, di tanah tempatnya hidup ia dikukuhkan sebagai sebai, sabai, saudara manusia. Bagaimana ia kemudian menjadi berhala, disembah, disakralkan, dan bank manusia dikorbankan atas namanya?
Ia dibesarkan oleh mitos dan legenda sebagai saudara manusia yang mendiami pulau ini. Sementara itu, dunia modern melilitnya dengan “dongeng” ilmiah sebagai makhluk langka, endemik, purba, dan entah apa lagi. Ia diperkenalkan ke dunia luar dan diberi nama ilmiah setelah 20 tahun ditemukan dan diteliti ilmuwan. Bermula, pada 1906, seorang pilot …