Apa yang bisa dibanggakan dari kapal layar di zaman ketika lautan telah dikuasai mesin dan peta dilepaskan dari tafsir? Di masa ketika angin telah patah, masihkah layar memiliki arti? Di perairan yang terserak di antara Sumbawa dan Flores, kapal-kapal kayu mewah berseliweran mengangkut turis mengandalkan mesin yang menderu. Di Sulawesi, kapal dengan tujuh layar yang menantang angin itu disebut pinisi.
Naturalis terpandang Alfred Russel Wallace pernah menaikinya dalam perjalanan dari Makassar ke Kepulauan Aru pada 1856. Dalam bukunya, dengan kagum dia menulis: “Betapa indah segala sesuatu di kapal ini—tidak ada cat, tidak ada ter, tidak ada tali baru… Yang ada justru bambu dan rotan, tali dari sabut, ilalang… Serat-serat asri tumbuhan yang mengingatkan akan suasana tenang di hutan yang hijau dan teduh.”
Bahtera itu memang disusun dari bahan-bahan alami. Terkesan udik, tapi sejarahnya dipenuhi catatan heroik. Kaum Bugis menggunakannya dalam misi-misi akbar: melayari samudra luas, melawat ke negeri-negeri yang jauh, mengangkangi laut-laut terdalam demi mencari sumber nafkah hingga ke Eropa dan Afrika. Pinisi pula alasan mengapa selama berabad-abad masyarakat di selatan Sulawesi dikenal sebagai pelaut ulung yang paling nekat, barangkali juga brutal.
“Mereka mencerminkan arketipe bajak laut dalam imajinasi Barat,” begitu antropolog Lawrence Blair menggambarkan mereka dalam Ring of Fire. “Mereka disebut-sebut sebagai navigator lautan yang paling piawai, yang dipandu oleh pola ombak dan petunjuk berupa rumput laut dan feses burung.
